Jumat, 27 Desember 2013

Tulisan 17



BI: Dalam 20 tahun, Indonesia tergolong negara maju

Merdeka.com - Indonesia diyakini bakal menjadi salah satu negara maju, ditandai dengan pendapatan perkapita USD 15 ribu, sekitar 20-25 tahun mendatang. Untuk itu, Indonesia masih perlu melakukan reformasi struktur di bidang ekonomi, tenaga kerja, perdagangan, dan kelembagaan.
"Kita masih panjang untuk menuju rich income country, mungkin 30 tahun dari sekarang. Tapi saya cukup yakin dalam 20-25 tahun ke depan, Indonesia adalah satu dari sejumlah negara kecil di dunia dengan pendapatan perkapita di atas USD 15 ribu," kata Direktur Eksekutif Departemen Riset Ekonomi dan Kebijakan Moneter Bank Indonesia (BI), Dody Budiwaluyo, di sela-sela seminar internasional terkait jebakan negara berpendapatan menengah (middle income trap), di Nusa Dua, Bali, Jumat (13/12).
Menurut Budi, Indonesia saat ini masuk ke dalam kelompok negara berpendapatan menengah. Pendapatan perkapita di Indonesia mencapai USD 4 ribu.
"Membutuhkan proses di kelompok negara berpendapatan menengah dalam menuju ke level negara berpendapatan tinggi."
Budi menjelaskan, berdasarkan sejumlah literatur, ada beberapa indikator yang menunjukkan bahwa sebuah negara sulit meningkatkan pendapatan perkapitanya atau berada dalam middle income trap. Diantaranya, institusi dan infrastruktur yang terbelakang serta struktur ekonomi yang mengandalkan sumber daya alam.
"Nah proses akhir-akhir ini, yang sekarang mungkin kita akan lihat dalam setahun atau dua tahun ke depan, itu adalah proses di mana ekonomi kita mendapat guncangan, makanya distabilkan dahulu," katanya.
"Tetapi, pada saat kita menstabilkan perekonomian, kita perlu terus berpikir bagaimana pertumbuhan ekonomi ke depan terus meningkat tanpa ada tekanan harga (inflasi), defisit (neraca transaksi berjalan)," lanjutnya.

Tanggapan :
Menurut saya kita harus bangga terhadap Negara kita karna sudah menjadi Negara yang tergolong maju , tetapi jangan sampe karna sudah beranggapan Negara maju kita menjadi bersantai-santai, seharusnya kita harus tetep berfikir untuk kedepannya agar Negara Indonesia bisa tetap menjadi Negara maju.

Tulisan 16



BI: Ekonomi Indonesia Masih Tertekan


Jakarta : Bank Indonesia (BI) menilai tekanan pada perekonomian nasional terus berlanjut. Kondisi ini membuat Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) dan transaksi berjalan masih mengalami defisit. Dalam keterangan tertulisnya, Kamis (15/8/2013), NPI Indonesia sepanjang kuartal II-2013 mengalami defisit lebih rendah dibandingkan tiga bulan pertama 2013.
Membaiknya neraca tersebut ditopang surplus pada Transaksi Modal dan Finansial (TMF) antara lain akibat meningkatnya aliran modal masuk langsung (FDI) dan penerbitan obligasi valutas asing (Valas) pemerintah.
Namun BI mengakui neraca transaksi berjalan masih mengalami defisit relatif tinggi. Kondisi ini terjadi akibat terus menurunnya ekspor karena perlambatan ekonomi global dan penutunan tajam harga komoditas. Desifit neraca transaksi berjalan juga dipicu pembayaran bunga utang yang cukup besar pada periode April-Juni 2013.
Kondisi itu mendorong cadangan devisa nasional tergerus ke posisi US$ 92,67 miliar atau setara 5,2 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Dengan pengetatan bauran kebijakan moneter dan makroprudensial yang ditempuh, BI yakin neraca pembayaran Indonesia akan berangsung membaik ditopang penurunan defisit pada neraca transaksi berjalan. (Fik/Shd)

Tanggapan :
Menurut saya pemerintah harus lebih sigap memperhatikan perekonomian di Negara kita, agar bisa lebih baik dari sebelumnya , dan bisa memajukan kebutuhan dan perekonomian Negara kita. 

Tulisan 15



Perlambat Ekonomi, Indonesia Bakal Dipenuhi Pengangguran

 

Liputan6.com, Jakarta : Ekonom Universitas Gajah Mada (UGM) Tony Prasetiantono mempertanyakan sikap pesimistis dari pemerintah dan Bank Indonesia (BI) terhadap kondisi perekonomian Indonesia pada 2013 dan tahun depan.
"Apa memang melihat koreksi yang dilakukan Bank Dunia terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia di bawah 6%, sehingga pemerintah dan BI menjadi pesimis," tanya Tony ketika ditemui di Hotel Ritz Carlton Mega Kuningan, Jakarta, Selasa (19/11/2013).
Tony mengaku cukup terkejut dengan respon bank sentral dari merespon kondisi makro ekonomi yang terjadi belakangan ini. Bank Indonesia dinilai begitu cepat menaikkan kembali suku bunga acuan (BI rate) 25 basis poin menjadi 7,5% sebagai langkah menekan defisit neraca transaksi berjalan (current account).
Pesimisme pemerintah dan bank sentral juga terlihat dari keputusannya mengoreksi pertumbuhan ekonomi Indonesia. Pemerintah diketahui memprediksi ekonomi Indonesia hanya akan tumbuh 5,7%-5,8% di tahun 2014. Sementara BI memprediksi laju pertumbuhan ekonomi 5,8%-6,2%.
"Saya tidak setuju sebenarnya, dengan BI menaikkan BI ratenya. BI punya cara berpikir dan mindset, suku bunga naik agar pertumbuhan ekonomi bisa direm, sehingga demand terhadap import juga turun," tegasnya.

Tanggapan :
Menurut saya keputusan pemerintah untuk mengerem laju pertumbuhan ekonomi nasional merupakan keputusan keliru. Perlambatan ekonomi nasional justru membuka peluang bertambahnya angka pengangguran di Indonesia. Seharusnya BI memikirkan menaikan pertumbuhan ekonomi.

Tulisan 14



Banyak Negara Iri pada Ekonomi Indonesia

 

Liputan6.com, Subang : Masih kuatnya konsumsi rumah tangga membuat ekonomi Indonesia tumbuh secara konsisten dengan rata-rata berada di level 5,9% sepanjang 2008-2012. Kondisi ini berbeda dengan China yang telah mengubah format untuk mendorong pertumbuhan ekonominya ke depan.
Wakil Menteri Keuangan II, Bambang Brodjonegoro menyatakan, pertumbuhan berbasis konsumsi rumah tangga sangat penting untuk menopang perekonomian sebuah negara jika tidak ada dukungan dari faktor eksternal.  Laju konsumsi rumah tangga Indonesia pada kuartal II 2013 menyumbang 55,6% terhadap total pertumbuhan ekonomi di periode yang sama. Sedangkan pertumbuhan konsumsi rumah tangga hingga akhir tahun lalu sebesar 54,6%.
"Konsumsi rumah tangga kita sangat stabil dan cukup kuat menopang pertumbuhan ekonomi, karena tidak ada daya dorong dari eksternal yakni investasi dan ekspor. Sedangkan ekonomi Thailand, Singapura, Malaysia tumbuh negatif karena mereka sangat mengandalkan eksternal," jelas dia di Subang, Jawa Barat, Minggu (24/11/2013).
Bambang menjelaskan, aktivitas konsumsi domestik menjadi faktor internal dan mendasar untuk mendorong pertumbuhan. Sementara investasi dan ekspor merupakan cara untuk mempercepat laju pertumbuhan ekonomi. Sebuah negara, dikatakan Bambang, tidak melulu mengandalkan faktor eksternal untuk mengerek pertumbuhan ekonomi karena sangat dipengaruhi oleh kondisi global. Contohnya Singapura dan Thailand yang tidak memiliki daya dorong internal (konsumsi) sehingga tak mampu menopang pertumbuhan ekonomi yang positif.
"Investasi, ekspor dan konsumsi rumah tangga kita di tahun 2011 sangat bagus sehingga kita bisa bertumbuh 6,5% lalu turun karena faktor eksternal tidak mendukung. Tapi kita masih bisa bertumbuh karena punya konsumsi rumah tangga sehingga negara lain jealous dengan ekonomi Indonesia," klaim dia.
Indonesia dianggap mempunyai aset jumlah penduduk yang besar, bonus demograsi, dan peningkatan pendapatan per kapita maupun kalangan menengah. Kondisi ini membuat Indonesia masih diincar banyak negara untuk menanamkan modalnya. Bambang menjelaskan, China telah mengubah format berbasis konsumsi untuk memaksimalkan potensi pasar karena memiliki basis penduduk lebih dari satu miliar jiwa.
"China tak lagi berorientasi investasi gila-gilaan. Mereka justru ingin menciptakan fundamental yang kuat karena kalau memaksakan investasi terus masuk bisa kepanasan (overheating) sebab masa-masa mempercepat pertumbuhan ekonomi di China sudah lewat," tandas dia.(Fik/Shd)

Tanggapan saya :
Kita harus belajar untuk memperbaiki perekonomian kita , karna Negara lain saja iri kepada kita jadi kira harus terus menerus belajar agar bisa menjadi Negara contoh perekonomian terbaik. 

Tulisan 13



Ekonomi Negara Maju Membaik, Industri RI Tumbuh Positif

Jakarta : Pemerintah meyakini perekonomian Indonesia akan tumbuh lebih baik pada tahun politik. Pertumbuhan ekonomi itu akan didukung dari pertumbuhan industri non minyak dan gas (migas). Meskipun sampai akhir triwulan III 2013 kondisi perekonomian dunia masih diliputi ketidakpastian, namun dengan mulai membaiknya perekonomian negara-negara maju seperti Amerika Serikat (AS), Jepang, dan beberapa negara Eropa, Menteri Perindustrian, MS Hidayat mengaku, tetap optimistis dengan perekonomian nasional yang tumbuh lebih baik pada 2014.
Hidayat mengatakan, pada tahun depan, pertumbuhan industri non migas diperkirakan bisa mencapai sekitar 6,4%. Bahkan industri non migas dapat tumbuh 6,8% dengan catatan ada upaya untuk mengoptimalkan daya saing industri.

"Jika upaya-upaya maksimal bisa dilakukan industri non migas diperkirakan bahwa bisa tumbuh sekitar 6,8% di mana dalam hal ini industri logam dasar besi dan baja, industri alat angkut, mesin dan perlatannya, serta industri tekstil, barang kulit dan alas kaki diharapkan bisa menjadi motor pertumbuhan industri manufaktur," ujarnya di Kantor Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Jakarta Selatan, Senin (23/12/2013).

Dengan pertumbuhan industri non migas tersebut, lanjut Hidayat, pertumbuhan sektor industri pengolahan secara keseluruhan diperkirakan mencapai 5,8%-6,2% pada tahun 2014, dan pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan bisa tumbuh sekitar 5,7%-6,1%.
Hidayat menjelaskan, untuk mendorong pertumbuhan industri ini, Kemenperin akan tetap melanjutkan tiga program prioritas di tahun 2013 yaitu pertama, program hilirisasi industri berbasis agro, migas, dan bahan tambang mineral. Kedua, program peningkatan daya saing industri barbasis SDM, pasar domestik dan ekspor. Dan ketiga, program pengembangan industri kecil menengah.
"Kami juga merekomendasikan berbagai usulan kebijakan dalam rangka meningkatkan daya saing industri seperti optimalisasi insentif fiskal, penyelesaian hambatan investasi, optimalisasi pemanfaatan pasar Amerika dan Jepang yang mulai pulih terutama untuk consumer goods dan mencari pasar-pasar tujuan ekspor baru, peningkatan upaya pengendalian impor melalui kebijakan non-tarif barrier," jelasnya.

Selain itu, Kemenperin juga merekomendasikan penerapan sangsi yang tegas kepada unit kerja di instansi pemerintah, BUMN atau swasta yang tidak memenuhi persyaratan komponen lokal yang dipersyaratkan sehingga penerapan P3DN dapat lebih maksimal, prioritas penyediaan infrastruktur, mengintensifkan sosialisasi AEC 2012 kepada stakeholder industri.
Lalu menambah fasilitas laboratorium uji, meningkatkan kompetensi SDM industri, penyusunan standar kompetensi kerja nasional Indonesia (SKKNI) pada masing-masing sektor industri, penguatan IKMn serta pengembangan wirausaha baru industri.
"Rekomendasi-rekomendasi ini nantinya diharapkan akan mampu meningkatkan pertumbuhan industri ke arah yang lebih baik lagi, jauh lebih baik dari apa yang sudah kita capai di sepanjang tahun 2013," tandasnya. (Dny/Ahm)